Rantai nilai pasar madu

From SAMSwiki
Jump to: navigation, search

Rantai nilai pasar madu yang terdiferensiasi dengan baik sama pentingnya bagi produsen, distributor, dan juga konsumen untuk memberikan kualitas yang sama dan meningkatkan pendapatan.



Ethiopia: Gemechis (2016) menulis tentang rantai nilai pasar madu domestik Ethiopia: Madu mentah dijual kepada pengumpul (pasar kota/desa terdekat) oleh peternak lebah skala kecil. Mereka mengirimkan sejumlah besar produk ke seluruh penjual di kota-kota besar dan ke pabrik tej lokal. Seluruh penjual bertindak sebagai distributor dan menjual (madu). ke pengecer, rumah produksi tej (minuman lokal Ethiopia), dan konsumen. [1] Beberapa peternak lebah membentuk koperasi pemasaran dan produksi. Mereka mengumpulkan madu mentah dari anggota dan menjual produk setengah jadi ke perusahaan pengolah atau distributor. Pada 2013 ada sembilan perusahaan pengolah madu terdaftar di negara ini dan beberapa dari mereka juga terlibat dalam produksi madu. [2] Di Ethiopia, terdapat kekurangan “Good Beekeeping Practice”, sehingga, tidak adanya pengontrol kualitas, juga tidak memiliki konsep bisnis dan karena itu hasil panen madu mengalami kehilangan kualitas dan tidak dapat bersaing dengan perusahaan besar (kurang tepatnya pengumpulan madu, fasilitas penyimpanan dan transportasi; lihat Kesulitan dalam Pemeliharaan Lebah). Selain itu, pasar madu domestik memiliki beberapa masalah: penyelundupan dan pemalsuan produk lebah madu, keluhan konsumen tentang kenaikan harga produk madu, di lain sisi peternak lebah memiliki perasaan bahwa bisnis ini tidak menguntungkan. [1] Peternak lebah lokal tidak biasa memisahkan madu siap konsumsi dari lilin lebah dan bahan-bahan lainnya, tetapi selama proses pembuatan tej, Lilin lebah dipisahkan sebagai produk sampingan yang diteruskan ke pengumpul dan pengekspor. Oleh karena itu, mereka berfungsi sebagai pemangku kepentingan penting dalam bisnis lilin lebah. [3] Sekitar 10 persen dari madu yang diproduksi di negara ini tidak dijual tetapi dikonsumsi di rumah tangga. Terdapat daerah di Ethiopia, di mana tidak hanya 10%, tetapi sebagian besar madu dikonsumsi oleh rumah tangga peternakan lebah. Akibatnya, di wilayah itu hanya ada sebagian kecil atau tidak ada rantai pasar madu sama sekali. [4]


Indonesia:Menurut seorang ilmuwan lokal (Universitas Padjadjaran), terdapat bagian-bagian rantai pasar madu, tetapi masih ada pekerjaan yang harus dilakukan untuk memperkuat rantai nilai pasar. Rantai nilai pasar madu pada dasarnya ada di tangan peternak lebah skala kecil. Sejauh ini, peternak lebah (produsen) menjual produk mereka secara online dalam bentuk pengemasan massal dengan membuat dan memasarkan merek mereka sendiri, atau mereka menawarkannya kepada pengumpul (yaitu distributor). Pada langkah selanjutnya, produk yang dikumpulkan (madu, serbuk sari, royal jelly, lilin) akan diproses lebih lanjut untuk menyesuaikan kualitas barang (rasa, kadar air, ...). Madu siap konsumsi dijual di kota-kota besar yang terletak di sekitar peternakan tertentu. Peternak lebah juga menjual madu mereka kepada pelanggan, yang memesannya sendiri. Pelanggan sebagian besar dari kelas menengah ke atas dan di samping pentingnya madu pada agama Islam, motif kelas atas untuk membeli madu disertai dengan percaya pada aspek sehat dari produk lebah madu. Sebagian besar pelanggan tidak membeli madu di supermarket atau di pasar lokal, produk-produk yang ditawarkan sebagian besar berkualitas buruk (pemalsuan, dll.). Sejauh ini, tidak ada sertifikasi yang diketahui dan dipahami secara luas yang menjamin kualitas produk lebah. [5] Beberapa peternak lebah menggunakan agen yang mempromosikan dan menjual madu mereka. Agen membebankan biaya pada harga madu yang sebenarnya. Jadi, peternak lebah tidak harus mengeluarkan biaya untuk agensi, tetapi pelanggan yang harus membayar untuk layanan agensi. Tidak ada informasi tentang peternak lebah, pemrosesan produk, atau asal produk pada label.


References

  1. 1.0 1.1 Gemechis, L. Y. (2016). Honey Production and Marketing in Ethiopia. Agriculture And Biology Journal Of North America, 7(5), 248-253.
  2. MoA & ILRI (2013). Apiculture value chain vision and strategy for Ethiopia. Addis Ababa, Ethiopia: Ministry of Agriculture and International Livestock Research Institute.
  3. SNV/Ethiopia (2005). Strategic intervention plan on honey & beeswax value-chains, snv support to business organizations and their access to markets (boam).
  4. Serda, B., Zewudu, T., Dereje, M., & Aman, M. (2015). Beekeeping Practices, Production Potential and Challenges of Bee Keeping among Beekeepers in Haramaya District, Eastern Ethiopia. J Veterinar Sci Technol 6(255), 1-5.
  5. 5.0 5.1 Masterpole, Z., Teleposky, E., Thompson, J., Zaghloul, S. (2019). Value Chain Analysis in Lampung Province, Indonesia. Retrieved from the University of Minnesota Digital Conservancy, URL (accessed: 20.11.2019): https://conservancy.umn.edu/bitstream/handle/11299/208595/Value%20Chain%20Analysis%20in%20Lampung%20Province,%20Indonesia.pdf?sequence=1.