Iklim

From SAMSwiki
Revision as of 14:25, 19 February 2020 by KristinaG (talk | contribs) (Created page with "'''Ethiopia:''' Bergantung pada klasifikasi yang berbeda, ada tiga hingga lima zona iklim. Zona iklim yang sudah disepakati secara luas adalah: "Kolla" (zona panas; ketinggian...")
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Jump to: navigation, search

Ethiopia: Bergantung pada klasifikasi yang berbeda, ada tiga hingga lima zona iklim. Zona iklim yang sudah disepakati secara luas adalah: "Kolla" (zona panas; ketinggian 1500-1800 mdpl) dengan suhu rata-rata 26 °C dan curah hujan rata-rata 300-700 mm, periode pembungaan yang pendek dan oleh karena itu madu lebah sangat produktif dan agresif; "Woina-Dega" (zona dingin-hangat; ketinggian 1.800-2.400 mdpl) dengan suhu rata-rata 22 °C dan curah hujan rata-rata 700 - 1.000 mm; dan "Dega" (zona dingin; ketinggian 2.400-3.500 mdpl), pembungaan terjadi sepanjang tahun, dengan suhu rata-rata 16 °C dan curah hujan rata-rata 1.000-1.200 mm. [1] [2] [3]. Zona iklim yang lainnya adalah: "Bereha" (ketinggian <1.500 mdpl) dengan suhu rata-rata >26 °C dan curah hujan rata-rata <300 mm dan "Worech" (> ketinggian 3.500 m) dengan suhu rata-rata 12 °C dan curah hujan rata-rata 1.200-1.500 mm. Sementara itu, dataran tinggi di Ethiopia sudah penuh dengan hunian masyarakat, wilayah dataran rendah yang lebih dingin jarang dijadikan hunian dan hanya digunakan oleh penggembala nomaden dan semi-nomaden. [4] Angin, yang berasal dari Samudra Atlantik menandai periode hujan musiman yang mengakibatkan hujan terjadi di dataran tinggi (pertengahan Juni hingga pertengahan September), serta mengakibatkan periode hujan pendek. Musim hujan kedua terjadi pada bulan April dan Mei. [5]


Indonesia:: Iklim tropis yang terjadi di Indonesia ditandai dengan suhu tinggi di sepanjang tahun, tingkat terik matahari harian, kekeringan, hujan berlebihan dan tingkat kelembaban yang tinggi. [6] [7] Suhu rata-rata di Indonesia adalah 26 °C dan curah hujan rata-rata sekitar 300 mm. [8] Selain itu, ada peristiwa El Niño di Indonesia, yang menyebabkan awal musim hujan dan kekeringan diikuti oleh keamanan pangan yang tak terkendali. [9] [10] [11] Dengan menganalisis data curah hujan Indonesia tahun 1961-1990, dan dengan membandingkan hasilnya sebelum tahun 1960, Hamada et al. (2002) menyimpulkan bahwa ada empat sub-wilayah iklim di Indonesia. Zona iklim pertama terletak di belahan bumi selatan Indonesia dan ditandai oleh siklus tahunan dengan curah hujan maksimum selama September hingga Februari. Daerah yang terletak di dekat khatulistiwa atau di belahan bumi utara menunjukkan siklus setengah tahunan dengan curah hujan tahunan maksimum pada September-November di bagian barat pegunungan tengah Kalimantan dan siklus tahunan berbeda dengan maksimum selama Maret-Agustus (curah hujan yang relatif kecil). Daerah-daerah lain di Indonesia diketahui tidak memiliki musim hujan dan kemarau yang jelas. [10]


References

  1. Bekele-Tesemma, A., & Tengnäs, B. (2007). Useful Trees and Shrubs of Ethiopia: Identification, Propagation, and Management for 17 Agroclimatic Zones. Relma in Icraf Project.
  2. Gupta, R. K., Reybroeck, W., van Veen, J. W., & Gupta, A. (2014). Beekeeping for Poverty Alleviation and Livelihood Security: Vol. 1: Technological Aspects of Beekeeping. Dordrecht, Springer Netherlands.
  3. Gangwar, S. K., Gebremariam, H., Ebrahim, A., & Tajebe, S. (2010). Characteristics of Honey Produced by Different Plant Species in Ethiopia. Advances in Bioresearch, 1(1), 101-105.
  4. Le Houérou, H. N., & Corra, M. (1980). Some Browse Plants of Ethiopia. International Livestock Centre for Africa, Addis Ababa.
  5. Admasu, A., Kibebew, W., Ensermu, K., & Amssalu, B. (2014). Honeybee Forages of Ethiopia. Holeta Bee Research Center, Ethiopia.
  6. Seidel, D. J., Fu, Q., Randel, W. J., & Reichler, T. J. (2007). Widening of the tropical belt in a changing climate. Nature Geoscience, 1, 21–24.
  7. Crane, E. (1990). Bees and beekeeping: science, practice, and world resources. Ithaca, N.Y. : Comstock Pub. Associates.
  8. CCKP (2018). The World Bank Group, Climate Change Knowledge Portal database collection. Washington. URL (access date: 30.04.2018): http://sdwebx.worldbank.org/climateportal/index.cfm
  9. Hamada, J.-I., Yamanaka, M. D., Matsumoto, J., Fujao S., Winarso, P. A., & Sribimawati, T. (2002). Spatial and Temporal Variations of the Rainy Season over Indonesia and their Link to ENSO. Journal of the Meteorological Society of Japan, 80(2), 285-310.
  10. 10.0 10.1 Hughen, K. A., Schrag, D. P., & Jacobsen, S. B. (1999). El Niño during the last interglacial period recorded by a fossil coral from Indonesia. Geophysical Research Letters, 26(20), 3129-3132.
  11. Naylor, R. L., Falcon, W. P., Rochberg, D., & Wada, N. (2001). Using El Niño/Southern Oscillation Climate Data To Predict Rice Production In Indonesia. Climate Change, 50, 255-265.